Merayakan Patah Hati dengan Bahagia Bersama Didi Kempot

Denganmu, patah hati menjadi perayaan paling bahagia. Ambyar.
Seingatku namanya Santo, lelaki beranjak kepala tiga yang pertama kali mengenalkan telingaku dengan tembang campur sari almarhum Didi Kempot. 

Sebagai lelaki jawa tulen, di dusunku, dia sedikit berbeda. Saat orang lain memilih kebun dan tani sebagai mata pencarian, dia memilih berdagang buah. Saat pemuda lain karoke slowrock Malaysia, dia memilih 'Cidro' sebagai playlist utamanya.

Sampai sekarang, setiap mendengar suara almarhum Didi Kempot aku jadi teringat lelaki jomblo itu. Mungkin sekarang dia sudah menikah, punyak anak dan hidup bahagia.

Mungkin sampai sekarang dia juga masih jadikan lagu-lagu almarhum lord Didi sebagai playlist utamanya. Entah itu karena kesukaanya sama campur sari atau bisa jadi, dalam lubuk hati yang terdalam dan entah kapan itu, dia pernah patah hati. Sebagaimana hati ini. 

Setiap orang mungkin pernah patah hati, entah karena ditinggal janji, di tinggal pergi, di tinggal rabi atau di tinggal mati. 

Tanpa data penelitian WHO pun aku berani jamin, setiap orang juga punya level patah hati yang berbeda-beda. Tergantung kapan, di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa, Yolanda... 

Biasanya, semangkin kita berharap pada sesuatu yang akhirnya tidak dimiliki, semakin besar pula hati yang patah. Tapi kabar baiknya, setiap orang juga pasti punya cara 'merayakan' patah hatinya masing-masing. 

Fenomena perayaan patah hati itu belakangan ini terlihat jelas di kalangan milenial. Mereka di sapa dengan nama Sobat Ambyar. Almarhum Didi Kempot, dengan tanpa pemilu diangkat menjadi penglima tertinggih, The Godfather of Broken Heart. 

Bagiku Almarhum Didi Kempot bukan hanya Maestro campur sari dengan julukan The Godfather of Broken Heart. Lebih dari itu, dia adalah seniman yang mampu menembus batas universal perasaan yang tidak semua orang bisa lakukan. Dia mengawinkan kesedihan dengan kegembiraan dalam satu paket pertunjukan. 

Orang-orang bisa dibuatnya tertawa di saat hatinya patah. Joget-joget bergembira bersamaan dengan lingangan air mata. Coba lihat kembali live shownya almarhum Lord Didi di youtube, sobat ambyar sadar betul apa yang sudah patah tidak bisa kembali seperti semula, tapi kekecewaan harus terbayar lunas dan tuntas.

Dek opo salah awakku iki
Kowe nganti tego mblenjani janji
Opo mergo kahanan uripku iki

Mlarat bondo seje karo uripmu
Aku nelongso mergo kebacut tresno

Ora ngiro seikine cidro

The Godfather of Broken Heart menerjemahkan patah hati dengan lirik-lirik sederhana. Tanpa perlu mencatut bulan, bintang, dan senja untuk mewakili bahasa hati, cukup dengan kata Sindhap (ketombe) dan Lingso (anak kutu), lord Didi menerjemahkan lara hati, putarlah lagu Lingso Tresno. 

Nggak perlu tempat mewah untuk menunjukan betapa istimewanya cinta. Almarhum Didi Kempot cukup menggunakan tempat sederhana seperti stasiun, terminal dan pelabuhan untuk syari-syairnya. 

Didi Kempot penyanyi yang mampu menembus sekat ruang dan waktu. Ia menunjukan pada kita bahwa sebuah tempat tidak bisa mengukur istimewanya cinta, melainkan cintalah yang membuat tempat itu menjadi istimewa dan berharga. 

Bagi sobat ambyar, kepergiannya memang membuat sedih, bisa jadi inilah patah hati yang lebih sulit dan tidak akan pernah bisa 'dirayakan', karena The Godfather of Broken Heart yang kini benar-benar telah pergi.



No comments:

Powered by Blogger.