Diammu adalah Jutaan Kata yang Kau Tanggung Sendiri Bebannya
Sepekan kepergian bapak semua kembali seperti biasa. Tidak ada tangisan berlebihan atau penyesalan yang terus menerus kamu unagkapkan.
Semua sudah usai, kepergian bapak seperi kelegaan rumah yang selama ini penuh pesakitan. Kehilangan itu sebagai obat kesedihan selama melihat penderitaan bapak yang sudah menahun.
Tapi ada yang berbeda sejak itu. Kamu lebih diam dari biasanya. Lebih hemat kata sering diam tanpa suara. Sejak saat itu kamu mejadi sosok bapak sekaligus dirimu sendiri yang lebih tangguh.
Pagi sekali, sebelum hewan malam pulang dan hewan pagi bangun kamu sudah membereskan cucian, menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk anak-anakmu.
Usai subuh kamu bergegas berganti pakaian kerja, mengasah parang babat, memakai sepatu boot, cepat-cepat membungkus nasi yang baru tanak di dapur perapian kayu, membungkus ikan asin, tempe, tahu di kantong pelastik kecil untuk bekal sarapanmu sebelum membabat habis rerumputan di perkebunan sawit sebuah PT.
Alhamdulillah, setengah hari saja untuk 10 ribu rupiah, setelah dzuhur kamu sudah menyandarkan punggung kecilmu, tidur sejenak tak sampai satu jam lalu bergegas menuju pematang sawa bergelut dengan lumpur.
Kamu memang tak seberuntung adikmu yang bernasib sama di tinggal sang suami. Bapak tidak meninggalkan kebun karet seperti keluarga di kampung kebanyakan. Hanya kebun karet yang masih kecil-kecil, beberapa petak sawah yang semakin sulit mendapatkan air.
Alhasil beberapa pematang sawah yang sangat kering itu kamu tanami batang pisang. Setiap hari minggu.
Aku ingat sekali, san juga sangat kesal waktu itu setiap minggu. Hari-hari yang seharusnya santai menikmati hari libur, menjadi hari yang begitu melelahkan.
Pagi-pagi kamu mengajakku untuk menggali anak-anak pisang di sekitar rumah. Lalu meminggulnya ke sawah. Menggali tanah dan menanamnya. Setiap hari minggu.
Tapi, jika ku ingat kembali, masa-masa itulah yang paling aku nikmati. Saat itulah aku banyak belajar darimu.
"...nggak apa-apa kita tanam aja dulu, nantikan buahnya bisa dimakan atau paling nggak bisa dibagi-bagi ke tetangga" jelasmu padaku.
Sedari kepergian bapak katamu lebih banyak diam, namun ragamu tak pernah mau diam. Sering dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kamu impikan sedari dulu.
Semua sudah usai, kepergian bapak seperi kelegaan rumah yang selama ini penuh pesakitan. Kehilangan itu sebagai obat kesedihan selama melihat penderitaan bapak yang sudah menahun.
Tapi ada yang berbeda sejak itu. Kamu lebih diam dari biasanya. Lebih hemat kata sering diam tanpa suara. Sejak saat itu kamu mejadi sosok bapak sekaligus dirimu sendiri yang lebih tangguh.
Pagi sekali, sebelum hewan malam pulang dan hewan pagi bangun kamu sudah membereskan cucian, menyiapkan sarapan sekaligus makan siang untuk anak-anakmu.
Usai subuh kamu bergegas berganti pakaian kerja, mengasah parang babat, memakai sepatu boot, cepat-cepat membungkus nasi yang baru tanak di dapur perapian kayu, membungkus ikan asin, tempe, tahu di kantong pelastik kecil untuk bekal sarapanmu sebelum membabat habis rerumputan di perkebunan sawit sebuah PT.
Alhamdulillah, setengah hari saja untuk 10 ribu rupiah, setelah dzuhur kamu sudah menyandarkan punggung kecilmu, tidur sejenak tak sampai satu jam lalu bergegas menuju pematang sawa bergelut dengan lumpur.
Kamu memang tak seberuntung adikmu yang bernasib sama di tinggal sang suami. Bapak tidak meninggalkan kebun karet seperti keluarga di kampung kebanyakan. Hanya kebun karet yang masih kecil-kecil, beberapa petak sawah yang semakin sulit mendapatkan air.
Alhasil beberapa pematang sawah yang sangat kering itu kamu tanami batang pisang. Setiap hari minggu.
Aku ingat sekali, san juga sangat kesal waktu itu setiap minggu. Hari-hari yang seharusnya santai menikmati hari libur, menjadi hari yang begitu melelahkan.
Pagi-pagi kamu mengajakku untuk menggali anak-anak pisang di sekitar rumah. Lalu meminggulnya ke sawah. Menggali tanah dan menanamnya. Setiap hari minggu.
Tapi, jika ku ingat kembali, masa-masa itulah yang paling aku nikmati. Saat itulah aku banyak belajar darimu.
"...nggak apa-apa kita tanam aja dulu, nantikan buahnya bisa dimakan atau paling nggak bisa dibagi-bagi ke tetangga" jelasmu padaku.
Sedari kepergian bapak katamu lebih banyak diam, namun ragamu tak pernah mau diam. Sering dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kamu impikan sedari dulu.
Diammu adalah Jutaan Kata yang Kau Tanggung Sendiri Bebannya
Reviewed by Iskan Badai
on
February 28, 2020
Rating: 5