Firasat

Sebelumnya aku tidak tahu, entah apa yang ada dalam diammu waktu itu, kau menjual satu-satunya simpanan emas berharagamu. Meminjam ke tetangga, ke kerabat demi mendapatkan uang Rp 750 ribu untuk menembus uang pendaftaran sekolahku.

Masih jelas betul dalam ingatanku, masa sulit setelah bapak pergi adalah ketika di mana aku masuk STM. Bukan hanya karena biaya, tapi lihatlah tiga dari empat anakmu tidak ada yang melanjutkan jenjang SMA. Mereka cukup mengeri dengan kondisi yang ada dengan tamat SMP saja.

Bukan karena SD mu tidak tamat, tapi karena ketrbatasan yang memaksamu untuk ikhlas, walau aku tahu dalam hatimu ingin sekali menyekolahkan anak-anaknya sampai 'jadi orang'.

Tapi tidak dengan aku, si bungsu ini lebih keras daripada batu cadas. Dan aku sangat beruntung memilikimu yang sangat sabar.

Tiga pekan kau coba meyakinkanku bahwa aku tidak harus menlanjutkan sekolah, biaya dari mana, uang siapa, nanti putus di tengah jalan. Dan lain hal kekawatiran yang kau ungkapkan.

Namun, suatu ketika tanpa ku ketahui kamu pergi ke bu guru SMPku yang juga masih bertali darah dengan keluarga kita.

Ia mengakan padamu bahwa apapun yang terjadi aku harus tetap sekolah, katanya bu guru padamu aku punya keinginan kuat untuk belajar.

Tanpa sabar akupun berangkat ke kota untuk mendaftar. Kulihat jurusan yang berbau komputer, mengambil formulir dan langsung mendaftar.

Waktu itu yang kupikirkan hanya sebatas kalau bisa komputer itu keren. Seperti di film-film action. Minimal bisa mengedit foto dan berkerja di tukang cetak foto.

Namaku di urutan ke dua paling akhir, nyaris tidak lulus. Aku tahu, di balik kelulusan itu ada doa mu yang mengubah takdirku.

Inilah awal perjalanan baru bagiku dan bagimu. Sejak aku pindah ke kota, kita semakin jarang bertemu dan lelahmu semakin bertambah.

Dan setiap kali mengenang masa sulit itu, kamu selalu bercerita tentang sebuah firasat yang kau dapatkan lewat mimpi.

"Dulu mamak mimpi, inget kali. Dalam mimpi itu, kamu belajar sepeda, dan mama tuntun. Tapi nggak lama, kamu bisa langsung bawa sepeda sendiri tanpa mamak tuntun lagi."

Kau selalu bercerita firasat itu dan aku selalu ingin mendengarnya lagi dan lagi.




No comments:

Powered by Blogger.