4 Cara Tanya Kapan Nikah Tanpa Menyakiti Hati yang Ditanya

 Bertanya kapan nikah itu ada seninya

Selain kabar orang mati, poster undangan nikah bisa jadi pemicu ramainya group Whats App alumni yang lebih sering seperti kuburan.

Dan selalu akan ada orang yang chat begini "Jadi yang masih jomblo kapan ni?" nggak ketinggalan emoticonnya. 

Dan yang lebih greget selalu ada yang mention namanya langsung. Plus segala jenis 'ena-ena' nya orang yang udah nikah. 

Saya paham benar bahwa nikah itu double berkah, tentunya dari banyak sumber dan bibir-bibir enteng yang sudah berulang kali menasehati itu. 

Tapi kawan, perlu juga dipahami bahwa menikah adalah rana pribadi yang mungkin sangat sensitif. Walau bagi saya sendiri sudah bergeser, karena saya sendiri selalu jadi objek tentang kapan nikah ini.

Jadi tidak masalah bagi saya, ketika orang-orang disekitar saya langsung mention secara langsung di depan saya untuk di jodoh-jodohkan. Slow, tapi apakah hal seperti itu juga berlaku pada semua jomblo?

Mengingat beberapa teman wanita yang curhat sulitnya menuju pernikahan walau berbagai ikhtiar sudah dilakukan; memperbaiki diri, taaruf, meningkatkan karir dan berbagai hal, namun penolakan juga terjadi serig kali.

Sebagai seorang jomblo yang tidak berguna, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat setidaknya sekali dalam seumur hidup hehehee. 

Karena itu saya menulis tips untuk temen-temen yang ingin menyanyakan kapan nikah tanpa menyakiti Hati yang ditanya

Pertama, jangan menanyakan 'Kapan nikah?' di depan umum

Mungkin maksudnya baik. Tapi cara itu kurang tepat, apa lagi kamu belum tahu betul perasaan orang yang kamu tanyakan itu. Bisa jadi temanmu itu sudah lama sekali ingin nikah, dan selama itu pula mengalami kegagalan. Kamu orang yang enah siapa tiba-tiba menyuruhnya didengar oleh banyak orang. Coba bayangkan kalau kamu berada di posisinya?

Kedua, ijin dulu sebelum memotivasi 'Kapan nikah?' 

Ini seperti merepotkan, tapi penting agar motivasi yang kamu sampaikan benar-benar diingat oleh temanmu yang betah berlama-lama menjomblo. Meminta ijin sebelum memberikan saran sebuah pernikahan sama seperti mengentuk sebuah rumah sebelum kamu masuk ke dalamnya. Jangan habiskan motivasi basa basi mu kepada orang yang salah.

Ketiga, yang dibutuhkan jomblo itu bukan janji tapi bukti

Kamu harus tahu, nggak semua orang yang menunda menikah itu karena dia yang menginginkan. Saya punya teman yang sudah berulan gkali ta'aruf tapi ditolak. Ada teman yang berulang kali menjalin hubungan tapi selalu berakhir diperpisahan. Dan iba-tiba kamu ngoceh indahnya bermaligai cina dengan 'lambe turahmu'. Sebagai sahabat baik, buktikan kalau kamu benar-benar peduli padanya. 

Keempat, saranmu itu bentuk kasih sayang atau pamer? 

Tentu semua orang tahu menikah itu 'ena-ena' maksud saya membuat bahagia dan berkah tentunya. Tapi kenapa kebanyakan dari orang-orang yang memaksa saya untuk menikah itu bentuk pamer kenikmatan dan kemesrahan. Lagi pula setiap orang punya ukuran bahagianya sendiri-sendiri. Tentunya kebahagiaan yang kamu rasakan paska menikah belum tentu sama dengan teman jomblomu itu. Apa susahnya sih nikamati sendiri 'ena-ena' mu itu.

Kelima, kasih tahu juga kalau nikah itu ada nggak enaknya

Ada yang yang sering tidak disampaikan oleh teman-teman saya ketika dia menyampaikan indahnya menikah dengan mengebu-gebu, yaitu tidak indahnya. Tentunya di balik kebahagiaan terselip tantangan yang bisa jadi itu bisa jadi penyemangat buat jomblo memutuskan untuk segera menikah. Tidak enaknya menikah ini bisa jadi wejangan yang paling dibutuhkan oleh joblo dari pada iming-iming kebahagiaan yang terbatas untuk diucapkan oleh kata-kata.

Kira-kira begitu, dari kaca mata yang ditanyakan. Semoga membantu ya. Terima kasih.

  

No comments:

Powered by Blogger.