Filosofi Santuy, Filsafat Yunani Cara Menghadapi Patah Hati
Kita tidak bisa mengendalikan apa-apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita atas apa yang orang lain lakukan kepada kita.
Sebut saja Mael. dia kecewa, sedih dan terluka. Dunia tidak ada harapan, masa depan baginya kelam, hatiya remuk redam, gegara pujaan hati pindah ke lain hati karena karena belum berani menentukan tanggal repsepsi. Mael patah hati.
Tapi patah hati bukan hanya tentang asmara. Banyak hal dalam kehidupan ini yang membuat hati patah seolah bahagia tidak lagi ada. Tetang pekerjaan misalnya, di PHK, tidak mudik karena Corona, kelingking kaki kesandung meja, buka indomie nggak ada bumbunya, makan nasi goreng lupa kerupuknya dan lainnya.
Setiap kita pasti punya versi pata hatinya masing-masing, namun yang jelas ketika patah hati kebagiaan seolah udah nggak ada lagi. Ketika hal-hal yang kita inginkan nggak tercapai, seolah hidup ini nggak berarti dan semuanya mati. Sampai lupa hukum alam, bahwa nggak semua dalam hidup ini bisa kita kendalikan.
"Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tergantung pada) kita" - Epictetus.
Dalam filosofi Stoa atau aku lebih suka menyebutnya filosofi Santuy, ini disebut dikotomi kendali, bahwa di dalam hidup ada hal-hal yang dalam kendali kita dan ada yang tidak.
Mael tidak bisa mengendalikan pujaan hatinya untuk tetap bersamanya dan tidak berpindah ke lain hati yang lebih tajir melintir.
Mael juga nggak bisa memilih untuk dilahirkan dari orang tua yang sudah kaya seperti Rafatar. Sehingga dia bisa menentukan tagal resepsi tanpa mikiri fee.
Tapi sebagai manusia yang mempunyai akal dan hidup selaras dengan alam dan hukumnya, Mael bisa menggunakannya pikiran rasionalnya untuk menenangkan hati yang mungkin sudah disakiti.
Seperti halnya Mael, banyak dari kita dan akupun begitu, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali kita.
Misalnya, aku bahagia kalau.... (naik posisi, tunjangan tinggi, dibiayain resepsi, kucing cari nafkah sendiri, dll). Padahal kebagiaan datangnya dari pikiran kita sendiri. Dan pikiran kita, persepsi kita, opini kita, tujuan kita dan segala sesuatu dari tindakan kita adalah kita sendiri yang menentukan. Itu dalam kendali kita.
Sudah semestinya kebahagiaan itu nggak seharusnya kita cari, tapi kita ciptakan. Karena kebahagiaan nggak butuh alasan tapi cukup di rasakan. Santuy aja.
Kalau begitu apakah kita harus pasrah dengan hal-hal yang di luar kendali kita? Tentunya realitas hidup tidak sesederhana pembagian dua kategori saja.
William Irvine menawarkan trikotomi kendali. Selain hal-hal di luar kendali kita dan hal-hal dalam kendali kita, yang ketiga adalah hal-hal yang sebagian di bawah kendali kita.
Kategori 'sebagian di bawah kendali kita' ini adalah, semakin baik kita mengerjakan hal-hal di bawah kendali kita, semakin besar peluang kita mendapatkan hasil yang kita inginkan. Hubungan asmara adalah termasuk sebagian dalam kendali kita.
Mael memang tidak bisa mengendalikan perasaan dan kesetiaan pujaan hatinya. Tapi Mael bisa memberikan perhatian yang cukup, memberikan kasih sayang, memberikan pengerian, dll. Dengan tetap sadar bahwa pujaan hatinya di luar kendalinya.
Kembali lagi, sebagai mahluk yang spesial, memiliki akal dan pikiran, kita harus benar-benar sadar degan apa yang kita pikirkan dalam situasi tertentu, inilah yang disebut dengan mengendalikan Interpretasi dan Persepsi.
"Bukan hal-hal atau peristiwa tertentu yang meresahkan kita, tetapi pertimbangan/pikiran/persepsi akan hal-hal dan peristiwa tersebut" - Epictetus
Yaitu proses pikiran kita dalam menimbang/berpendapat/menafsirkan baik positif atau negatif ketika kita akan dan atau dihadapkan situasi tertentu.
Sebelum sang pujaan hati di tikung, situasiya mungkin Mael sangat bahagia ketika ia mendapat lampu hijau dari pujaan hati dan Mael membangun Interpretasi yang indah-indah (positif), seperti menikah, punya anak dan hidup bahagia, selamanya.
Namun penting bagi Mael sebelum itu membangun Interpretasi negatif, seperti sang kekasih kapan saja bisa meninggal, karena kesedak peniti misalnya. Atau mereka nggak bisa lanjut ke resepsi karena orang tua nggak merestuai.
Interpretasi dan Persepsi itu membangun kesiapan mental ketika hal-hal yang tidak di inginkan itu benar-benar terjadi. Sehingga saat jatuh tidak terpuruk dengan kondisi hati yang remuk. Eak.
Dan sebaliknya, saat kita dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan; keinjek nasi, lengket di kaki yang bikin risih. Paling tidak, kita masih punya kaki yang sehat dan bisa berjalan ke manapun tujuannya.
"Kita menderita lebih di imajenasi kita daripada di kenyataan" - SenecaTetang pata hati dan apapun itu yang membuat seolah hidup sangat sulit untuk dihadapi, janganlah kawatir, santuy aja, nikmati setiap prosesnya. Karena sumber dari emosi negatif sebenarnya bukan dari persitiwa dalam hidup, tatapi ersepsi/anggapan/pendapat kita sendiri atas peristiwa tersebut.
"Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru akan terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri" - Seneca.
Kita memang tidak bisa mengendalikan apa-apa yang orang lain lakukan terhadap kita. Tapi kita bisa mengendalikan diri kita atas apa yang orang lain lakukan kepada kita. Santuy.
Kenyataan memang berat, tak semudah rangkain kata-kata. Karena itu tidak perlu kita ingat setiap quotes itu, cukup santuy, bersahabat dengan apa yang dihadapi dan nikmati prosesnya.
Discamer: Tulisan ini adalah review dari sebuah buku berjudul Filosofi Teras karya Henry manampiring. Mael hanya situasi untuk mempermudah saya menjelaskan. Karena aku masih jauh dari filosofi santuy.
No comments: