Melalui buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tidak yang di tulis oleh Rusdi Mathari tauhidku ditonjok sekeras-kerasnya.
Tulisan dibuku ini dilatari suasana kampung kebanyakan di daerah jawa yang sederhana, polos dan apa adanya. Penyajiannya penuh komedi satire sarat makna yang buat aku cekikikan sekaligus berpikir, mengintropeksi diri tentang hablum minallah, hablum minannas ku selama ini.
Ada banyak pesan yang disajikan buku yang diambil dari tulisan serial Ramadhan di website Mojok.co ini, namun satu yang paling mengena di pikiranku di bagian yang berjudul "Ikan Mencari Air, Mat Piti Mencari Allah"
Diceritakan disitu Mat Piti yang penasaran atas penjelasan Cak Dlahom tentang makna menyaksikan, arti dua kalimat syahadat.
Cak Dlahom katakan kalau Allah itu bisa disakisakan (secara kasat mata) ke Mat Piti dengan dalil Al-Qur'an "Dialah yang awal dan akhir, yang tampak dan tak tampak, dan dia yang mengetahui segala sesuatu" Tapi kenapa Mat Piti tidak bisa melihatnya secara langsung.
Karena penasaran itu, sehabis tarawih Mat Piti menggunjungi Cak Dlahom yang sedang memancing di tempi danau menggunakan umpan pucuk jagung muda.
Jadi, dalam cerita ini Cak Dlahom ini dikenal tidak waras oleh warga kampung, tapi dia pernah nyantri. Setiap ocehannya mengandung sarat makna yang membuat warga kampung berpikir ulang tentang ibadahnya.
"Apa benar Allah itu tampak?" Mat Piti penasaran
"Allah sendiri yang bilang, Mat. Bukan aku"
"Saya ingin tahu saja, Cak, kaya apa Allah itu."
"Mat, kamu kira Allah itu artis? Kamu kira, Allah kaya ustaz-ustaz di televisi itu?"
"Jadi terus gimana cak..."
"Ikan-ikan itu tidak tahu bahwa selama ini mereka sudah berada di air. Setiap saat."
"Kok lucu sih ikan-ikan itu. Ada di air malah mencari di mana air."
"Sama lucunya dengan kamu, Mat."
"Kok saya, Cak?"
"Karena kamu selalu bertanya dan ingin mencari Allah, padahal Allah meliputimu setiap saat. Lebih dari denyutan nadi yang paling halus yang pernah kamu dengar atau kamu rasakan."
"Iya, Cak, terima kasih saya diberi tahu..."
"Persoalannya, bagaimana kamu mau mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiria. Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya..."
Ada banyak pesan lagi didalam buku ini. Secagai catatan pribadai aku akan rangkum pesan-pesan itu ditulisan ini, agar suatu saat aku masih bisa membacanya kembali.
Jujur pada Allah
Pesan ini datang dari bagian pertama buku ini yang judulnya "Benarkah Kamu Merindukan Ramadhan?"
Ketika datangnya Ramadhan sering kali kita menyambutnya dengan hati gembira, penuh bangga senyum dan suka cita, mengikuti saja bagaiman aorang-orang juga melakukan hal yang sama.
Namun dalam menjalaninya tidak sedikit ada kata di hati kecil bahwa puasa dan mungkin kewajiban lainya ini berat untuk dijalani.
Ketidak jujuran tentang tidak sukanya menjalani kewajiban ini, di hati saya sendiri, menimbulkan persaan tidak ikhlas dalam menjalankanya.
"Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, untuk apa diwajibkan, mat?" Nasehat dari Cak Dlahom kepada Mat Piti ketika mat Piti jujur bahwa sebenarnya dia tidak suka menjalankan puasa.
Cara Ikhlas Bersedekah
Coba ingat, terakhir kali kapan kkamu bersedekah? dalam bentuk uang berapa jumlahnya? dan sedekah apa itu?
Coba sekarang jawab pertanyaan ini. Kapan terakhir kamu buang air kecil dan besar? ada berapa kali hari ini kamu buang air? berapa kali kamu buang air dalam sepekan trakhir?
Dari dua kelompok pertanyaan di atas mana yan gpaling sulit untuk kamu ingat jawabannya. Nah seharusnya seperti itulah ikhlas bersedekah.
Seandainya Iblis tidak Ada dan Menggoda
Aku sedikit risih pikiran saat mendengar eramah-cerama tentang setan dan iblis yang disalah-salahkan elah menggoda manusia untuk berbuat perbuatan dosa. Aku sendiri tidak tahu kenapa, antara dosa saya yang sudah terlalu banyak atau menyalakan sesuatu di luar kendaliku sendiri merupakan hal yang nggak etis di pikiranku.
Di buku ini ceritakan apa yang terjadi jika semua iblish dipenjarakan oleh Allah. Kejadian itu juga sudah terjadi pada zaman Nabi Sulaiman. Pasar jadi sepi, semua orang tidak bergairah untuk makan dan kehidupan menjadi idak normal.
"Wahai Sulaiman, menangkap dan memenjarakan iblis tidak akan mendatangkan kebaikan manusia karena manusia menjadi tidak bergairah mencari nafkah."
Menyelesaikan Kewajiban Itu Biasa
Sebagai seorang yang tidak memiliki kecukupan harta, pernah tidak mengalami rasa iri di hati kecil ketika melihat atau mendengar orang lain bersedekah sangat besar, membangun masjid, zakat milyaran, dan sebagainya.
Lalu berandai-andai jika memiliki kecukupan harta akan begini, begitu untuk bersedekah, dan menjadi kecil hati karena sedekahnya tak sebanding dengan mereka yang besar. Ada pesan dari cak Dlahom yang tertuang di buku ini,
"Benar, kalian mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, tapi justru karena kesulitan hidup kalian itulah sedekah kalian menjadi luar biasa. Sagat istimewa."
Seorang polisi menangkap penjahat, menolong orang yang kemalingan, membuat masyarakat aman itu sudah biasa, karena itu sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang polisi. Tapi jika itu dilakukan tukan parkir, itu baru luar biasa nilainya, Istimewah.
Apa Kita Harus Punya Jabatan?
Ceritanya sehabis Pak Luara dan Bu Lura pulang dari umroh, Cak Dlahom kembali berulah. Tepat di halaman rumah Pak Lurah yang sedang banyak tamu memberi ucapan selamat, Cak Dlahom teriak-teriak seperti orang sedang unjuk rasa.
"Pak Haji.... Bu Puasa....." berulang-ulang menjadi pusat perhatian warga sampai anak-anak meneriaki Cak Dlahom gila... Cak Dlahom gila.
Lalu diajaklah pulang Cak Dlahom oleh Mat Piti. Di perjalanan pulang Cak Dlahom bertanya pertanyaan yang membingungkan Mat Piti.
"Kenapa yang dihormati (punya title nama) harus orang yang berhaji?"
"Masksud sampean?"
"Kenapa orang yang salat tidak dipanggil pak Salat? Orang yang puasa dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat dipanggil Pak Zakat?"
Itu beberapa hal yang aku pelajari dari sebuah buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya. Aku tulis agar suatu saat aku bisa membacanya kembali di sini.
Jika dirasa tulisan ini memberi manfaat buat kamu, silakan di share ya.
No comments: