Kehilangan

Tidak lama setelah magrib berakhir, hujan tidak juga berhenti waktu itu. Tapi pakaian kotor sudah direndam dan aku harus segera mencucinya. 

Inilah akifitas pekananku sejak memulai awal pekan memasuki STM. Aku terbiasa mecuci pakaian sendiri sejak SMP. Tapi malam itu jadi malam yang paling berbeda seumur hidup pengalamanku mencuci. 

Tidak lama, cucu dari nenek tempat aku ngekos yang juga orang kampungku, tetanggaku datang, dan langung menemui aku di kamar mandi.

"Is lihat kakak yuk di rumah sakit, ke punya ponakan baru" ucap bang Yudin. 

Dalam hatiku berucap, Alhamdulillah, berarti ini anak ketiganya. Namun entah kenapa orang-orang di ruangan itu menatapku sedih. Aku tidak pedulu. 

Tanpa berlama, aku dan bang Yudin menuju rumah sakit. Sesampainya di sana banyak sekali orang kampung yang menatapku sedih bahkan ada yang matanya sembab. Aku masih belum mengerti, tapi kondisi ini canggung sekali. 

Sampai akhirnya aku tiba disebuah ruangan, di sana ada abang pertama dan kedua, mereka langsung memeluku dan menangis, sambil berucap lirih,

"Kakak udah pergi, doain ya..."

Malam itu aku benar-benar kehilangan untuk kedua kalinya. 

Banyak hal yang datang, tapi jangan perna lupa mereka juga akan pergi atau kita yang pergi meninggalkan mereka.

Kehilangan ini mengajarkanmu arti dari keikhlasan. Sama seperti sebelumnya, ketika semua sudah berakhir, tidak ada tangis seduh sedan yang berlebihan dan mengungkit kesalahan.

Kamu tetap bersyukur, anak perempuan satu-satunya itu pergi demi selamatnya bayi yang ia lahirkan. Aku cukup bersyukur.

Kau selalu berujar, bisa jadi itu jalan yang terbaik untuk anak perempuanmu. Karena katamu hidup harus terus berlanjut.






No comments:

Powered by Blogger.