Malam Di Mana Kamu Mengakhiri dan Memulai Semuanya
Tidak hujan, tapi malam itu benar-benar dingin dan sepi. Hanya ada Bapak, Kamu dan Aku di rumah sederhana yang kalian bangun sejak memulai kehidupan baru.
Dari dalam kamar bapak memanggil, tidak seperti biasa, malam itu bapak meminta untuk di papah keluar rumah. Katanya ingin buang air besar dan sedikit mual.
Kamu cepat-cepat memanggilku untuk membantu memegang senter. Waktu itu belum ada kamar mandi di dalam rumah. Sumur pun berjarak dengan gelap malam yang pekat.
Belum pun sampai, bapak sudah mengeluarkan cairan dari mulutnya dan sedikit cairan mencret. Aku ingat sekali, malam itu, untuk kali pertamanya selama sakit menahun, malam itu bapak tidak bisa menahannya.
Malam itu aku merasakan hal yang tidak nyaman. Aku juga melihatnya di wajah mu.
Bapak sudah sakit sejak lama. pernah lama di rawat di rumah sakit dan kembali dengan tubuh bugar dan gemukan, meski tidak gempal sewaktu muda kata mu.
Tapi waktu itu sedikit ada harapan dalam hati ini untuk rehat dari penderitaan Bapak dan Kamu yang melewati hari-hari sulit.
Tidak lama, bapak kembali sakit. Lebih prah. Wajahnya membekak, kaki dan seluruh anggota tubuhnya juga. Kata Mantri kampung, bapak terkena penyakit jantung. Riwayat darah tingginya meyakinkanku.
Sejak saat itu tidak banyak yang bisa bapak lakukan, beliau banyak duduk di rumah dan menjaga makanannya. Tidak lagi bekerja tentunya.
Kamulah yang menjadi tulang punggung keluarga sejak saat itu. Pagi membabat semak belukar di kebun kelapa sawit Arko (sebuah PT kelapa sawit), sore bergelut dengan lumpur di pematang sawah, malam merawat suami dengan penuh kasih.
Aku ingat itu dan tidak pernah kulupa. Sampai mati.
Tidak lama bapak ditutun kembali ke kamar, cepat-cepat kamu meminta anak perempuanmu untuk memanggil Wawak (Uwak), mungkin kamu sudah merasa bahwa sebentar lagi bapak benar-benar akan pergi.
Malam itu bapak memanggil cucu dan satu persatu anaknya. Aku ingat sekali pesan terakhir yang bapak bikisan di telingaku,
"Ingat, jaga kawanmu, jangan jahat sama kawan-kawanmu"
Lalu bapak menutup mata, entah kapan beliau pergi, yang jelas malam itu untuk terakhir kalinya aku mendengar suaranya.
Dan di malam itu pula kamu mengakhiri dan memulai semuanya.
No comments: