Belajar Bahagia dari Sebuah Kehilangan

Ternyata ada banyak hal yang kita miliki, namun sebenarnya tidak penting apa lagi kita butuhkan.
Genks, kapan terakhir kamu ngecek tumpukan koleksi baju di lemari? atau rak yang berisi koleksi buku hasil buruan di bookfair? Atau barang printilan souvenir nikahan yang kamu tumpuk di laci?

Sebagai anak kostan sedari SMA, saya nggak pernah punya tempat tinggal tetap. Selalu berpindah tempat dan biasanya setiap pindahan, selalu ada barang-barang yang tidak ikut ke tempat yang baru. Buku misalnya.

Masa SMA, saya sering sekali beli buku. Walaupun tidak sebanyak para penggila buku lainnya. Selain minim uang saku, di kota kecil seperti Langsa tidak banyak buku baru yang selalu tersedia.
Tapi buku jadi barang dominan disetiap saya pindahan. Dan tentu buku adalah barang yang paling saya cintai dibanding yan glainnya.

Bahkan saya sudah seperi Tsundoku, yang gemar sekali membeli banyak buku, tapi tidak dibaca, hanya dibiarkan menumpuk dan bangga punya banyak koleksi buku.

Di antara hari-hari penuh tekanan mental yang mungkin sudah masuk tahap depresi ini karena kehilangan. Saya membeli beberapa buku pengembangan diri. Salah satunya buku Fumio Sasaki yang judulnya goodbye, things: hidup minimalis ala orang jepang.

Ada sesuatu yang saya dapatkan dari apa yang Fumio Sasaki ceritakan di dalam buku itu, ternyata. selama ini ada banyak barang yang dia miliki, namun sebenarnya barang-barang itu tidak penting apa lagi ia butuhkan.

Akhirnya sau-persatu barang-barang itu ia jual dan satu persatu ia singkirkan dari apartemennya. Dari sejak itu ia merasa hidupnya lebih bahagia. Karena sebelumnya ia berpikir bahwa bahagia adalah ketika ia bisa memiliki barang-barang yang ia inginkan. Sehingga membuatnya resah ketika apa yang ia inginkan tidak bisa ia miliki atau hilang.

Sama halnya ketika saya kehilangan laptop pertama saya. Ketika belum punya laptop rasanya semua kan mudah dikerjaakan dengan laptop. Ternyata tidak banyak. Dan ketika laptop itu hilang, saya masih bisa meyelesaikan tugas-tugas saya di warnet. Selain mengenang sebagai anak warnet, saya mendapatkan teman baru dan pengalaman baru yang tidak saya dapakan ketika mengerjakan tugas di kostan sendirian.

Rasa-rasanya saya harus lebeh banyak belajar sama kang parkir. Semua yang kang parkir miliki hanya titipan. Kalau dateng titipan alhamdulillah, kalau diambil lagi ya sudahlah. Kenapa kang parkir tidak pernah merasa kehilangan, karena ia tidak pernah merasa memiliki.

Cara terbaik agar tidak sakit ketika kehilangan adalah jangan pernah merara memiliki

Saya lirik rak mini yang berisi tumpukan buku. Sortir secara singkat. Dan ada beberapa buku yang memang sepertinya sudah tidak saya butuhkan lagi. Seperti buku-buku fiksi yang sudah dan belum saya baca. Jepret, saya kirim posting di story whats app dan instagram. Tidak sampai 20 menit buku-buku itu sudah punya pemilik baru.

Entah bagaimana seperti ada rasa bahagia dari sebuah kehilangan buku-buku yang selama ini jadi benda yang paling saya jaga.

Buku-buku itu bukan tidak penting, tapi ada yang lebih penting dari itu yang harus di jaga, yaitu hati. 

No comments:

Powered by Blogger.