Seni Menjadi Bahagia di Situasi yang Serba Nggak Pasti Ala-ala Folosofi Teras
Kenapa harus ada banyak alasan untuk menjadi bahagia kalau misalnya bahagia bisa diciptakan sendiri tanpa perlu alasan?
Punya nggak temen yang kalau lagi ada masalah bawaannya mual-mual, pusing, nggak mau makan, lembek diem aja, kaya kucing keselek koin time zone?
Atau malah sebaliknya, punya temen yang kalau ada masalah, stres maunya makan mulu. Padahal udah makan siang, lanjut ngebaso, masih aja cari kang basreng, sambil singgah di indomart cari ciki dan kawan-kawannya.
Atau temen yang golongannya ada masalah atau nggak ada masalah minta makan mulu, udah gitu punya senjata pamungkas 'PAKAI UANG MU DULU YA!' kalau punya temen kaya gini campakan aja ke sunge Amazon, biar di lalap piranha.
Kalu kata Dr. Andri SpKJ FAPM yang saya kutip dari buku Filosofi Teras Henry Manampiring, reaksi terhadap masalah atau stres yang kita alami seperti temen pertama dan kedua itu adalah hal yang alami. Karena itu menanggulangi tekanan/stres sejak dini itu penting untuk kesehatan, baik mental dan fisik.
Jadi, ketika seseorang mengalami tekanan (baca: stres) dengan otomatis orang di dalam tubuhnya memproduksi zat. Misalnya pada teman kedua, bisa jadi lambungnya memproduksi zat asam secara secara tidak norma, jadinya mag.
Teman kedua, bisa jadi salah satu organ di dalam tubuh memproduksi zat yang meningkatkan nafsu makan. Jadi untuk memnuhi kebutuhannya dia harus makan, kalau nggak makan bisa nambah stres. Enak banget ya, stres tapi nambah isi.
Masalahnya, apakah dengan melakukan cara itu tekanan stres dapat lenyap begitu saja? Tidak semuda itu ferjuso!
Banyak orang yang mengalikan stresnya dengan berbagai cara, salah duanya seperti di atas, dan itu normal. Yang jadi masalah adalah mengalihkan stres dengan cara judi, mabuk-mabukan bahkan sampai narkoba.
"Ya itu kan hak mereka!"
Iya itu hak mereka, bebas merekalah, tapi kalau over dan jadi kecanduan? iya kalau mereka banyak uang bisa selalu dapeti narkoba sendiri, judi dengan sepuas hati. Lah kalau nggak ada duit, bisa juali barang-barang bahkan sampai mencuri.
Ini cerita fakta, tetangga ibu saya mau masak untuk anaknya, pas di lihat tabung gasnya ilang! ternyata di jual sama anaknya yang mau dia masaki itu, untuk main judi onlen. Kacau nggak tu.
Heran saya, padahal masih bisa rebus indomie telor ceplok setengah mateng + cabe rawit, masih aja ada yang narkobah.
Oke kita stop dulu gibah syari nya.
Kegiatan pengalihan stres dengan cara-cara shoping, makan-makanan hype, jalan-jalan ke luar negeri dll. Memang bisa menghilangkan stres, namun hanya cukup sementara. Saat semua aktifitas yang kita anggap menyenangkan itu berakhir, stres dan tekannan itu datang lagi. Apa lagi kalau mendengar, melihat, mencium hal-hal yang mengingat akan masalah....
Habis pulang kongkow, eh tetangga nyetel lagu 'Harusnya aku yang di sana, dampingi mu dan bukan dia...' Lari ke pojokan garok-garok tembok. Dasar bucin.
Alih-alih mengalihkan stres, Filosofi Stoa (Teras) memberikan seni yang berbeda dalam menghadapi stres, yaitu menghilangkan sumber stres dengan cara sadar diri atau Mindfulness.
Sejak pandemik Covid-19 menyerang, segalanya berubah. Karena itu management thinking sangat penting, apa lagi dalam kondisi yang serba tidak pasti saat ini.
Covid-19 sudah seperti tukang sulap, dia bisa menghilangkan benda-benda yang ia pegang. Menghilangkan pendapatan, pekerjaan, per kongkow'an, persaudaraan, bahkan nyawa.
Cara menghilangkan sumber stres yang ditawarkan filosofi stoa adalah dengan cara menyadari bahwa kita sebagai manusia adalah mahluk yang berbeda, yaitu memiliki rasional, pikiran dan akal untuk berpikir.
Konsep berpikir dalam filosofi stoa salah satunya adalah dengan prinsip Dikotomi Kendali.
Some things are up to us, some things are not up to us - Epictetus"Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita"
Mungkin ini terdengar sangat familiar dan mudah, tapi tidak coba benar-benar di pahami dan di praktekan. Ini akan berbeda.
Contoh hal-hal yang di luar kendai kita: tindakan orang lain, opini orang lain, harta, kesehatan, kondisi kita saat lahir, raziah, abang tukang parkir yang tiba-tiba datang, calon yang tiba-tiba nikah sama orang, dll.
Contoh hal-hal yang ada dalam kendali kita: opini atau presepsi kita, keinginan kita, tindakan kita, tujuan kita, intinya segala sesuatu yang merupakan tindakan dan pikiran kita sendiri.
Banyak dari kita, dalam hal ini termasuk saya, menggantungkan kebahagiaan berdasarkan hal-hal yang itu diluar kendali kita. Misalnya, saya bahagia kalau saya tidak sakit, saya bahagia kalau harta saya banyak, saya bahagia kalau nemu indomie bumbunya dua, dan sebagainya dan sebagainya.
Masalahnya hal-hal itu diluar kendali kita, kita tidak bisa maksain hal-hal yang bukan dalam kuasa kita. Satu-satunya cara ketika hal-hal itu tidak sesuai dengan ekspetasi adalah dengan cara menerima. Memaksimalkan apa yang bisa kita kendalikan. Yaitu pikiran dan tindakan kita.
"Hei, kapan nikah? kok belum punya anak? eh, kamu gemukan ya? unangan kamu nikah sama orang loh!" oke basa basinya memang cukup ngeseli, tapi
Atau hal-hal lainya, seperti apa yang terjadi saat ini.
Covid-19 adalah penyakit yang di luar kendali kita. Sekesel-keselnya kita, maki-maki dan sumpah serapah, penyesalan, dan kekecewaan yang kita keluari nggak akan ngebuat Covid-19 itu pergi.
Tapi kita punya pilihan, tetap tenang, ngikuti anjuran ahli dan pemerintah, dan bisa bikin sesuatu yang itu bisa membantu para ahli menyelesaikan Covid-19 ini.
*Dari Buku Filosofi Teras Henry Manampiring
No comments: